Demonstrasi dan Demokrasi

Oleh: Yoseph Letfa

Aksi demonstrasi dalam suatu negara yang menganut sistem demokrasi, seperti halnya Indonesia, adalah suatu fenomena yang biasa bagi masyarakat Indonesia.

Sebab, demonstrasi merupakan salah satu cara yang lazim dilakukan oleh masyarakat untuk menyampaikan aspirasi mereka baik berupa penolakan, kritik, saran, ketidaksetujuan, atau usulan kepada para penguasa terhadap suatu kebijakan yang dianggap kurang sesuai.

Namun, sekarang ini, kebanyakan orang berpendapat bahwa aksi-aksi itu lebih banyak membawa mudarat dari pada manfaatnya. Tapi, itu semua tergantung dari sudut pandang mana kita menilainya.

Orang sering mengatakan bahwa demonstrasi terjadi ketika orang lapar. Lapar karena kekurangan makanan, pengetahuan, dan bahkan kekuasaan. Demonstrasi membawa mudarat dan berdampak destruktif ketika para demonstran bertindak anarkis dan sewenang-wenang.

Kebanyakan demonstrasi terjadi ketika sekelompok besar orang tidak puas dengan keadaan tertentu, dengan orang atau sekelompok orang, dan ketidakpuasan tersebut mengantar orang sampai kepada suatu tindakan yang destruktif dan anarkis.

Mencermati rencana sejumlah Ormas akan menggelar aksi Demontrasi pada 4 November 2016, di Ibu Kota Negara, Jakarta, tentunya hal itu sah-sah saja sebagai warga Negara Indonesia, yang memiliki kebebasan sebagai warga negara untuk menyampaikan aspirasi.

Namun, kita perlu menyikapi secara kritis terhadap rencana aksi besok itu dengan sedikit melihat aksi-aksi kelompok radikal selama ini, dari sekian banyak aksi-aksi yang digelar untuk merespon kemelut politik di Tanah Air, tidak semuanya berjalan damai dan tertib. Bagaimana jadinya dengan aksi protes yang akan digelar besok itu juka berakhir dengan tindakan anarkis dan berdampak terhadap keutuhan bangsa yang majemuk ini?

Ada beberapa faktor yang menyebabkan munculnya tindakan anarkis dalam demonstrasi. Pertama, sikap para demonstran yang menganggap pendapat mereka paling benar dan harus dituruti; kedua, suasana panas, sesak dan penat ditambah dengan emosi yang meledak-ledak para demonstran akan membuat para demonstran cenderung mudah terpancing emosi;

Ketiga, tidak ada perwakilan yang bersedia menanggapi dan berbicara dengan demonstran, keepat, kerusuhan dalam demo memang sudah di rencanakan sebelumnya, demonstran memang sengaja diarahkan kepada chaos;  kelima,  adanya provokasi dari para tokoh sentral yang suaranya didengar: demonstrasi tentunya melibatkan banyak orang, hal ini membuat situasi sangat sulit untuk dikontrol dan dikendalikan, selain itu banyaknya demonstran juga sangat rawan dengan provokasi, baik provokasi dari dalam maupun dari luar.

Plato dalam ajarannya menyatakan bahwa dalam sistem demokrasi, kekuasan berada di tangan rakyat sedemikian sehingga apa yang dilakukan tidak lain dari pada menyuarakan kepentingan umum (kepentingan rakyat) dalam kehidupan politik.

Secara prinsipil, rakyat diberi kebebasan dan kemerdekaan  untuk bertindak apa saja sesuai kehendak mereka. Akan tetapi kemudian rakyat kehilangan kendali, rakyat hanya ingin memerintah dirinya sendiri dan tidak mau lagi diatur sehingga mengakibatkan keadaan menjadi kacau, yang disebut anarkisme.

Semua yang menyebut dirinya sebagai rakyat dengan kepentingan yang massif dan cenderung terwujud dalam pelbagai rupa, sudah selalu membawa dampak yang anarkis dan destruktif dalam sebuah sistem pemerintahan.

Memang aksi demonstrasi yang kerap terjadi, bukan hanya di Indonesia, juga di negara-negara lainnya tidak pernah luput dari anarkisme. Tetapi tidak dapatkah kita menciptakan suasana demonstrasi yang memang sesuai dengan nilai-nilai demokrasi di mana kita menyampaikan aspirasi kita atas nama kebebasan, tetapi serentak kita menghormati kebebasan sesama warga negara?

Dengan demikian, selama menyampaikan pendapatnya, umumnya masyarakat tidak merasa terusik ketenangannya, dapat menjalankan aktivitas-aktivitasnya sembari sadar bahwa demontran sekalian telah mewakilkan aspirasi sebagian masyarakat Indonesia yang menentang kebijakan pemerintah.

Komentar Anda

Komentar Anda