Ir Rudi Kadarisman

Cintanya Terpusat kepada Anak Penyandang Autis

rudy-kadarisman-dan-keluargaRudy Kadarisman yang berperawakan besar dan terkesan garang bagaikan tokoh wayang bima ini, ternyata mempunyai sisi lembut seorang ayah yang bisa kita jadikan teladan. Betapa tidak, cinta dan kasih terhadap anak semata wayangnya membuat saya jadi trenyuh. Ternyata lelaki yang suka bercanda dan memiliki sense of humor ini tidaklah segarang penampilannya.

GELISAH SEMPAT MENDERA HATI

Rushanov JYK Kadarisman atau biasa dipanggil Anov, merupakan anak semata wayang pasangan Ir Rudolfus YB Kadarisman (Rudy) dan Ir Rozana A Awuy Matulandi Kadarisman (Sasha). Saat masih berusia satu tahun, Anov sudah mampu berlari. Pengalaman itu memunculkan tanda tanya serta rasa heran di benak pasangan tersebut. “Saat itu, Anov sangat susah ngomong. Kami putuskan untuk memeriksakan dia ke dokter,” ujar Rudy di rumahnya, Jati Rahayu, Pondok Melati, Bekasi, Jawa Barat.

Hasil pemeriksaan dokter menunjukan, bahwa Anov mengidap autisme. Hal itu lantas membuat Rudy dan sang isteri terkejut. Alhasil, Anov pun harus melewati serangkaian tes. Salah satu tes yang dijalani adalah memanggil nama Anov dengan suara yang agak keras dalam jarak dekat. Tetapi, Anov tak merespon. Ia hanya bisa menangkap frekuensi suara yang sudah akrab di telinganya, yakni suara kedua orangtua dan baby sitter yang selama ini ikut merawatnya. “Kami sekeluarga sempat terpukul dengan kenyataan ini. Toh, kami sadar dan yakin dia adalah karunia terindah Tuhan bagi kami berdua dan keluarga besar kami,” kata Rudy.

Sejak baru berusia setahun lebih, pasangan suami-istri ini tak pernah merasa curiga dengan kemampuan putra mereka. Pasalnya, Anov mampu menghafal beberapa iklan televisi. “Kadang setiap hari ia baca koran. Setelah dibawa ke dokter, ternyata anak kami autis. Ini karunia terindah,” kata Rudy.

Rasa gelisah sempat mendera hati pasangan ini. Saat itu tak ada pilihan lain, kecuali menjual semua barang berharga guna memulihkan penyakit anaknya. Apalagi, dr Rudy, seorang dokter spesialis autisme menyarankan Anov untuk diperiksa dan sampelnya dikirim ke Amerika Serikat dengan metode perawatan yang memakan biaya sekitar Rp. 400 juta.

“Pikiran kami berdua, rumah kami bisa dijual demi pengobatan anak kami. Tapi, masih ada pertimbangan lain. Mungkin tak menggunakan metode dr Rudy yang biayanya begitu besar. Maka dengan upaya mencari alternatif biaya yang lebih murah, saya juga konsultasi dengan beberapa dokter. Salah satunya, dr Melly dan dr Kardiono. Dokter Melly juga menangani putra Farhan, yang juga autis,” lanjutnya.

Saat itu mereka juga dihadapkan pada cobaan yang berat. Tetapi, selama itu pula mereka larut dalam doa dan pasrah pada kehendak Sang Ilahi. Melalui dr Melly, mereka menemukan jalan keluar. Dokter ini menyarankan agar sampel itu dikirim secara kolektif dari beberapa anak yang mengalami autisme. Sehingga, biaya untuk pemeriksaan ke AS hanya membutuhkan dana Rp. 8 juta. Pemeriksaan tersebut meliputi, rambut, kotoran, dan lain-lain. Kemudian hasil pemeriksaan tersebut dikirim ke Amerika. Jalan inilah yang kemudian ditempuh oleh orangtua Anov.

Tak Hanya Berdoa

Sejak mengetahui putranya menderita autisme, Rudy beserta isteri terus berjuang demi kesembuhan putra semata mayang mereka. Keduanya memutuskan untuk menjual apa yang yang mereka miliki. Menurut Rudy, ia dan istri tak melulu larut dalam doa dan memohon kesembuhan kepada Tuhan. Hal tersebut didasari atas kekhawatiran jika doa dan harapan yang mereka sampaikan belum terpenuhi.

Meski demikian, tak berarti doa dan usaha mereka berhenti. Terbukti, selama proses belajar di sekolah autisme, Rudy beserta istri, Anov, dan keluarga besarnya bertolak ke Semarang, Jawa Tengah. Mereka bertujuan untuk berdoa secara khusus demi kesembuhan sang anak. Pergumulan pun selesai, doa mereka benar-benar dikabulkan. Anov, kata Rudy, juga memiliki tanda besar di pipi kirinya. Semacam tahi lalat. Bagi mereka, pengalaman ini adalah berkat luar biasa dan terindah yang terima dari Tuhan.

Menurut Rudy, sembari Anov sekolah di Playgroup Corrdkids Permadi, Rudy dan istri juga  memasukkan putranya di Klinik Anakku, Pulomas, Kampung Ambon, Jakarta Timur. Klinik khusus anak autis ini berada dalam pengawasan dr Kardiono. Begitu juga di sekolah Mandiga, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Setelah beberapa tahun, Rudy membawa putranya untuk menjalani pemeriksaan ke dr Melly. Setelah diperiksa, ternyata terdapat kemajuan yang luar biasa dalam diri Anov.

Rudy menceritakan, bahwa dokter terkejut atas perkembangan anaknya yang berangsur normal. Dokter menanyakan dimana Rudy menyekolahkan putranya. Ia menyampaikan, bahwa putra mereka aktif di play group biasa sembari masuk didua sekolah khusus anak autis di Pulomas dan Kebayoran. Sejak saat itu, Anov sudah mulai terbiasa bermain dengan teman-temannya.

“Bahkan pelajaran Bahasa Inggrisnya juga bagus. Puji Tuhan karena doa dan sikap pasrah kami benar-benar didengar Tuhan. Setelah itu saya kursuskan dia sesuai dengan keinginannya. Bahkan saya menyediakan sopir dan perawat khusus. Kami bangga karena play group, TK, dan SD Parmadi Pondok Gede merupakan tempat belajar yang bisa menerima anak autis,” jelas Rudy, warga Paroki Calvary, Bekasi, Jawa Barat.

Di sekolah, Anov mampu mengikuti pelajaran dengan baik. Terbukti, ia selalu naik kelas. Meski demikian, Anov masih mengikuti kursus kumon, renang, dan les pelajaran sekolah. Kursus itu pun disesuaikan dengan keinginan sang anak. Melihat kenyataan tersebut, Rudy dan isteri mengajarkan kepada orangtua yang memiliki problematika serupa, untuk tetap semangat. “Kita tahu bahwa upaya mengobati anak autis juga butuh uang. Kadang jumlahnya besar. Nah, saya selalu share pengalaman kami karena pernah memiliki anak autis,” tutur Rudy.

Menikah

Perkenalan Rudy dan Sasha bermula saat mereka masih kuliah di Fakultas Teknik (FT), jurusan Teknik Sipil Universitas Kristen Indonesia (UKI), Jakarta. Kegiatan kemahasiswaan, terutama ekstrakurikuler, menjadikan keduanya semakin akrab. Setelah menjalin kisah cinta sekian lama, Rudy dan Sasha pun sepakat untuk mengukuhkan hubungan mereka dalam ikatan perkawinan menurut adat dan tata cara Gereja Katolik.

“Kami menikah 2 Februari 2000 di Gereja Santo Antonius Padua Bidaracina, Jakarta Timur. Prosesi pemberkatan nikah suci dilakukan pastor paroki dan dihadiri juga pendeta. Saat itu, pastor meminta agar pendetanya hadir karena sebelumnya, calon istri penganut Protestan. Selang beberapa lama setelah menikah, kami dikaruniai anak,” cerita Rudy.

Sebagai keluarga baru, aktivitas Rudy sebagai seorang sarjana teknik terus dijalaninya. misalnya, ia dipercayakan dalam sejumlah proyek besar di wilayah Jakarta Timur, Jakarta Pusat, Bekasi, Bogor, Bali, Depok, dan sejumlah tempat lainnya. Tahun 1994-1996, dipercayakan sebagai Site Manager PT Nuansa Graha Jakarta untuk proyek Pembangunan Real Estat Perum Permata Timur.

Kemudian pada tahun 1996-1998, menjadi Project Manager PT Nuansa Graha untuk proyek Pembangunan Perum BTN Permata Sari Sawangan, Depok, Jawa Barat. Begitu pula pada 1999-2001, menjadi Direktur CV Yomar untuk proyek Pekerjaan Konstruksi Billboard Telkomsel di Gilimanuk, Bali dan sejumlah proyek besar lainnya, dan GM PT Semesta Segar Abadi (importir) dan Dirut PT Cakrawala Buana Kencana (forwarding) sampai tahun 2004. Hingga kini, ia menjadi Direktur Operasional PT Langgeng Sukses Makmur (forwarding).

Pergaulannya yang luas serta luwes, membuat Rudy mudah diterima. Termasuk dalam lingkungan dan komunitas di wilayah Jatirahayu, Pondok Melati, Pondok Gede, Bekasi. Ia misalnya, pernah aktif sebagai pengurus RT dan RW. Sedangkan di bidang sosial dan keagamaan, ia juga masih mengambil peran meskipun tak secara intens. Keterlibatannya itu tak hanya dalam lingkup Katolik, tetapi juga dalam lembaga-lembaga yang dikelola oleh tokoh Islam.

“Sejak 2006-2008, saya dipercayakan warga sebagai salah satu penasehat Rehabilitasi Narkoba Darul Iman, Bekasi. Pusat pengajian, rehabilitasi narkoba dan gelandangan ini dipimpin Pak Haji Agus Saan. Jumlah jemaatnya sekitar 6 ribu di Kota Bekasi dan Depok. Di sana saya sudah dianggap seperti saudara. Bagi saya, tugas membebaskan seseorang dari ketergantungan narkoba atau problem hidup merupakan tugas kemanusiaan universal,” kata Rudy.

Perannya dalam panti rehabilitasi menuai tanggapan positif dari rekan-rekan kalangan Muslim. Mereka menilai, keterlibatannya itu merupakan bentuk pengabdian kepada Allah yang dalam aplikasinya adalah hablum minannas atau hubungan antarmanusia yang sangat mulia.

“Mereka memuji kalau saya sangat akrab dengan kalangan tokoh pemuda dan ulama Islam. Bagi saya itu tak membuat saya bangga. Hal lebih penting adalah bagaimana sebagai umat Katolik bisa masuk dalam setiap denyut kehidupan masyarakat tanpa melihat asal usulnya. Ini bentuk nyata bagaimana menjadi garam dan terang bagi dunia di sekitar kita. Saya pikir dari sana nama Yesus dimuliakan,” lanjut Rudy.

Peran Gereja

Rudy menuturkan, banyak kegiatan sosial masyarakat yang telah melibatkan Gereja Katolik. Misalnya, pengobatan gratis, donor darah, kunjungan ke panti-panti asuhan, aksi sosial menjelang Natal, Paskah, dan lain-lain. Hal itu merupakan bukti nyata keterlibatan gereja sebagai bagian tak terpisahkan dalam kehidupan bermasyarakat.

“Sebagai umat kita tentu mengapresiasi peran gereja seperti itu. Bahwa Gereja Katolik harus menolong orang yang susah dan membutuhkan pertolongan. Dengan demikian, lingkungan sekitar melihat bahwa ikut memperhatikan orang kecil. Sebagai umat Katolik, sewajarnya kita terus terjun untuk mengerjakan hal-hal itu. Dengan demikian, kita semua ikut mengubah wajah dunia agar semakin damai,” katanya.

Sebagai penganut Katolik, Rudy juga ikut memperjuangkan kebebasan beribadah. Ia teringat sebuah pengalaman kecil, dimana sebuah gereja diprotes karena para penganutnya mengadakan kebaktian bersama. Menerima kabar itu, ia segera menyampaikan perihal tersebut kepada rekannya yang merupakan seorang ulama. Setibanya disana, rekannya itu meminta agar tidak perlu adanya protes, karena kehadiran gereja tersebut juga memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menjalankan ibadah agamanya. “Para pemrotes akhirnya mengurungkan niatnya,” cerita Rudy.

Berkat komitmen dan pergaulan yang ditunjukkan oleh pria peranakan Jawa–Belanda ini, rekan-rekannya pun mendorong dirinya untuk masuk bursa calon legislatif (caleg) DPR RI tahun 2009, melalui Partai Demokrat. Rudy mewakili daerah pemilihan (Dapil) Jawa Barat VI yang meliputi Kota Depok, Kabupaten Bekasi, dan Kota Bekasi.

Dorongan untuk masuk bursa calon legislatif tidak diterimanya begitu saja, melalui pergumulan panjang dalam doa bersama istrinya. Terlebih, sejak 2004 Rudy sudah aktif sebagai Sekretaris Bidang Pertahanan Keamanan (Hankam) Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat. “Saya menerima dorongan rekan-rekan. Saya berpikir melalui politik, saya ikut memperjuangkan kepentingan masyarakat. Terutama orang-orang kecil yang membutuhkan bantuan. Juga kaum yang tertindas,” kata Rudy.

Rudy mengaku, sekalipun rutinitas kantor dan berbagai aktivitas lainnya menyita waktu, toh, ia tetap memposisikan keluarga sebagai kiblat pengabdian dalam seluruh ziarah hidupnya. Begitu pula dengan istri dan putra semata wayangnya, Anov, yang telah memberi pelajaran dan inspirasi tentang makna kehidupan.

“Bagi saya, keluarga merupakan sumber cinta dan inspirasi saya dalam bekerja dan mengabdi di dunia. Keluarga telah mengajarkan saya tentang peran seorang kepala keluarga. Keluarga menjadi tiang dan fondasi gereja,” kata Rudy. (Ansel Deri)



Sumber: Naskah asli yang sudah dimuat HIDUP edisi 4 April 2010

Komentar Anda

Komentar Anda