Kala SBY Berkisah tentang True Story Perjalanan Politik AHY

Pekan kedua Tour de Jawa Partai Demokrat, rombongan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memasuki Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Hampir serupa dengan beberapa daerah lainnya, kedatangan SBY bersama Ani Yudhoyono disambut dengan sebuah pertanyaan oleh masyarakat, “Kenapa Mas AHY tidak ikut?”

Pada lawatan hari ke-11, SBY bersama rombongan DPP Partai Demokrat, berkunjung ke pabrik PT Sido Muncul, di Bergas, Kabupaten Semarang, Rabu (11/4/2018). Di sana SBY menanam pohon kalpataru, mengunjungi pabrik pembuatan jamu, serta berdialog dengan sejumlah karyawan.

Salah satu pertanyaan yang mencuat dalam sesi dialog itu adalah terkait soal Komandan Komando Tugas Bersama (Kogasma) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Terutama perihal keputusan putra sulung SBY itu yang banting stir dari dunia militer ke politik.

“Memang di banyak daerah, kami selalu mendapat pertanyaan kenapa AHY tidak ikut. Begini saya jawab, AHY saat ini juga melakukan lawatan menjumpai saudara-saudaranya di berbagai daerah. Rute kami berbeda,” terang Presiden RI ke-6 itu.

Kemudian soal keputusan AHY masuk ke politik, SBY menerangkan dengan rinci kepada ratusan karyawan pabrik yang hadir dalam dialog. “Ini sebenarnya setengah pribadi, tapi tak apa, akan saya jawab,” ujarnya.

Menurut SBY, ia dan istrinya tak pernah membayangkan jika takdir sejarah seperti ini akan terjadi pada AHY. Sebab selama 16 tahun mengabdi di militer, karir dan reputasinya terbilang cukup bagus.

“Tiba-tiba, tak ada angin tak ada hujan, harus mengambil keputusan yang dramatis. True story-nya, tidak ada rencana dari kami bertiga atau desain apapun. Ini terjadi karena adanya keinginan, harapan, dan permintaan dari sejumlah partai politik yang meminta AHY rela dicalonkan sebagai calon gubernur DKI Jakarta,” ungkap SBY.

Padahal, kata dia, AHY saat itu sedang berada di Darwin, guna memimpin satuannya yang tengah berlatih bersama tentara Australia. Esoknya, AHY yang telah menyelesaikan tugasnya, terbang kembali ke Tanah Air, untuk memberikan jawaban.

“Saya dan Ibu Ani juga tidak pernah memaksa dan mempengaruhi. Saya tahu ini masa depan AHY, saya tak ingin salah. Saat itu selesai shalat Istikharah, AHY mengatakan, jika ini sudah takdirnya, maka dia siap menjalaninya. Ini semua terjadi hanya dalam satu hari,” jelasnya.

Namun karena suratan takdir, AHY tak berhasil di Pilkada DKI Jakarta, meski sudah berikhtiar sekuat tenaga. Menurut SBY, hari itu juga menjadi saat bersejarah bagi AHY.

“Malam itu, ketika dia mengetahui belum berhasil, dari hasil quickcount, belum pengumuman resmi, ia tentu terpukul, karena selama ini karirnya baik terus, kini harus menerima kekalahan yang luar biasa. Tapi hanya dalam waktu kurang dari dua jam, ia bisa mengatasi kemelut hatinya,” beber SBY.

AHY lalu berkata kepada kedua orangtuanya, bahwa ia menerima kekalahan itu dengan lapang dada. Kemudian, ia menelepon dua pasangan kandidat pesaingnya untuk memberikan ucapan selamat, dan baru setelah itu menyampaikan pidato kekalahan kepada publik Ibu Kota.

“Saya sedih sekali, mengetahui betapa ia tidak mudah mengelola batinnya, emosinya. Tapi ia menyampaikan keyakinannya. Dengan ditemani istri dan teman-temannya, AHY datang ke DPP Partai Demokrat, berpidato dengan tegar meski suaranya bergetar. Saat pidato itu, ia berpesan kepada generasi muda untuk tidak mudah menyerah,” kenang SBY.

Bagi SBY, inilah momen sejarah kedua dalam hidup AHY, setelah yang pertama keputusannya masuk ke dunia politik. Meski berat, tapi AHY berhasil melepaskan beban pikirannya dan kemudian ‘move on’.

“Itulah sejarahnya. Dan saya tidak menyangka, jalan sejarah, kehendak Allah, tuhan Yang Maha Kuasa, kalah di Jakarta, tetapi saya perhatikan sekarang, AHY pergi kemanapun, bertemu saudara-saudaranya, diterima dengan baik. Bahkan diharapkan suatu saat, kita tidak tahu, bisa menjadi pemimpin, mungkin doanya, seperti ayahnya. Itulah the real story, the true story tentang AHY,” pungkas SBY.

Komentar Anda

Komentar Anda