#MendadakAHY, Dari Bully ke Puja Puji

“Bung, sepertinya waktu terlalu cepat melipat rangkaian kejadian”

Saya menerima kalimat itu melalui aplikasi Whatsapp di handphone android saya, tepat pukul 01:00 tengah malam hari Kamis. Saya faham maksud teman itu, Ia hendak menyindir kelakuan para netizen yang tiba tiba berubah menyanjung Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni yang mengakui kekalahan di Pilkada DKI, padahal hanya berselang itungan jam, para penyanjung itu adalah hatters yang tak kenal lelah membully AHY-Sylvi.

Bukan rahasia memang, akun akun di media sosial twitter dan facebook serta instagram berubah menjadi AHYLovers secepat itu. Nama nama terkenal di dunia jagat maya yang tadinya gencar menyerang AHY-Sylvi berbalik arah menjadi menyanjung pidato putra pertama Presiden RI ke-6 itu.

Pidato AHY yang didampingi Sylviana di Wisma Proklamasi pukul 09:00 Wib malam hari Rabu itu memang menggetarkan. Agus mengakui kekalahan dan mengucapkan selamat kepada duo pesaingnya di Pilkada DKI. Tak kurang saya melihat ratusan cuitan di jejaring media sosial twitter dan puja puji di timeline Facebook menyertai pidato ayah satu anak itu.

Saya terpaksa mengamini pesan Whatsapp yang dikirim teman tersebut. Memang begitulah, manusia memang jauh lebih mudah beradaptasi dengan suasana dan lingkungan baru daripada makhluk manapun. Tentu masih ingat dalam ingatan kita bagaimana umpatan, makian dan cacian serta hinaan dialamatkan kepada Agus Harimurti Yudhoyono. Ia dan keluarga besarnya menjadi sasaran kasarnya peradaban di era yang disebut era digital. Media sosial tidak lagi menjadi media bersosialisasi, namun menjadi “A Sosial” dan wadah untuk menunjukkan sisi paling gelap dalam diri manusia

Agus dimaki, dibully, gerak geriknya tidak ada yang dapat dibenarkan, Ia melangkah lalu tanpa sengaja menginjak semut, tapi manusia yang memekik kesakitan setinggi langit. Ayahnya yang mengabdikan diri menjadi prajurit TNI dan Presiden RI dibully sedemikian rupa, Ibunya pun merasakan demikian. Lebih tak beretika dari itu, anaknya yang tidak tahu apa apa soal politik harus menerima perlakukan yang sama dengan ayahnya hanya karena memakai baju karnaval saat acara di sekolahnya. Sylviana Murni juga tak kalah gerah diserang, hanya karena bersimpati pada seorang kolega dengan mengirimkan uang kepada koleganya, Gde Sardjana sang suami dipaksa mendatangi kepolisian dengan tuduhan yang tak kalah membuat bulu bergidik. Gde dituduh mendanai aksi makar. Sylvi sendiri juga merasakan hal yang sama, ditengah berkonsentrasi di Pilkada, Ia dipanggil polisi dengan tuduhan korupsi pembangunan masjid dan dana hibah pramuka di APBD DKI.

Tapi baik Agus dan Sylvi serta keluarga mereka beruntung memiliki kerabat yang setia. Dibalik bully selalu saja ada tawa. Tapi itulah, waktu memamg teramat cepat melipat semua rangkaian kejadian, Ia dengan mudah merubah caci menjadi puji, bully menjadi sanjung dan hina menjadi simpati. Saya dan mungkin sebagian kecil dari kelompok yang bersimpati pada perjuangan Agus dan Sylvi tertawa saja melihat kelakuan para netizen yang tiba tiba #MendadakAHY itu.

Agus kini tengah meniti jalan baru, Ia bukan lagi seorang prajurit TNI yang gemilang sejak masih di AKMIL. Dunia baru menunggunya, Dan seperti katanya dalam bukunya “Agus Yudhoyono -Telah Kupilih Jalan Hidupku Yang Baru Untuk Jakarta” pilihan ini sudah dia pikirkan masak masak. Bahkan sudah melalui diskusi panjang dengan keluarga kecilnya.

Agus menghentikan catatannya sebagai seorang tentara dengan pangkat terakhir Mayor Infanteri. Kini ia menuliskan buku baru sebagai seorang tokoh yang menantang zamannya. Saya kembali teringat tanda pagar #MendadakAHY di twitter. Agus kini dijadikan simbol baru pergerakan politik anak muda. Tak bisa dipungkiri memang, Agus telah membuka mata bahwa dunia politik tidak hanya soal prilaku korup sebagian dari mereka, namun juga harapan yang tumbuh dan harus dijaga.

Agus harus dijaga ?, Ya, Agus harus dikawal dan bukan cuma Agus, tapi juga puluhan atau mungkin ribuan bibit politisi muda lainnya. Rasanya banyak contoh politisi muda yang terseret derasnya arus politik hingga terperosok ke jurang korupsi karena tidak dibekali mental yang baik dan sikap sabar dalam mencapai tujuan. Agus sudah memulai. Ia bersih, pintar dan memiliki darah biru sebagai prajurit dan garis keturunan yang sudah mengabdikan diri untuk NKRI.

Oleh – Muhammad Rafiuddin Zamzami

Komentar Anda

Komentar Anda