Meroket Nama AHY Bukan Tanpa Alasan

Perbincangan tentang Pilpres 2019 yang terus menghangat belakangan ini tak bisa dipisahkan dari sosok anak muda Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Namanya terus muncul dalam berbagai survey dan bahkan diprediksi akan memberi kejutan jika ia memutuskan untuk bertarung di Pilpres tahun depan.

Meski AHY belum berbicara lebih lanjut, tetapi tuntutan dan dukungan itu terus bergema di ruang publik. Publik menilai AHY sebagai jalan ketiga dan mendobrak kebuntuan selama ini yang terus terpaku pada figur Jokowi dan Prabowo. Dengan hadirnya AHY akan mampu menjawab semua problematika yang saat ini tengah mendera bangsa.

Saya melihat, nama AHY muncul dengan sendirinya. Tak ada deklarasi, yang ada hanya kunjungan ke daerah menemui masyarakat hingga ke pelosok nusantara. Ia juga aktif memberikan kuliah umum di kampus-kampus untuk memberikan semangat, motivasi dan inspirasi kepada generasi muda. Pemberitaannya pun tak begitu masif. Namun, kedekatan dengan masyarakat berhasil ia bangun, sehingga popularitas dan elektabilitasnya selalu bersaing dengan tokoh yang lebih dulu berkarir di dunia politik.

Pendaftaran capres dan cawapres tinggal lima bulan lagi. Nama AHY terus melambung, meski ada juga yang menganggapnya belumlah siap untuk kursi itu, saya rasa itu keliru. AHY saat ini berada dalam umur yang produktif untuk menjadi pemimpin. Umur tersebut juga ditopang dengan intelegensi dan visi yang jauh ke depan untuk bangsa ini.

Bahkan, jika berkaca pada pangkat terakhir AHY yang terus diperdebatkan, saya rasa tak bisa menjadi penghalangnya untuk menjadi pemimpin. Toh, Jokowi yang sekarang presiden saja berawal dari pengusaha meubel tak ada yang menyangka, kok.

Dekat dengan masyarakat, cerdas, dan visioner itu ditopang dengan pilar dan pondasi yang sangat kokoh, yakni nasionalis-religius. Keduanya melengkapi karakter seorang AHY.

Berbicara mengenai sisi nasionalis tak bisa dipisahkan dari dirinya. AHY yang merupakan lulusan AKMIL tahun 2000 dengan predikat terbaik tersebut, banyak diberi penghargaan atas prestasi dan jasanya dibidang militer, keamanan dan ketahanan nasional, maupun internasional.

Sisi nasionalisme AHY juga terekam ketika ia selalu berbuat mi kepentingan bangsa dan negara, meskipun selama ini tidak berada dalam lingkaran pemerintah. Dengan segala daya upaya ia terus berkontribusi demi kepentingan masyarakat luas. Maka tak salah, ia dicap sebagai anak muda nasionalis.

Dari sisi relligus, AHY sedari kecil sudah dibesarkan dalam keluarga yang sangat dekat dengan agama. Raden Soekotjo atau kakek dari AHY merupakan anak dari salah satu pendiri pesantren Gontor Ponorogo. Begitu juga nenek dari AHY, Siti Habibah juga merupakan salah seorang putri keluarga besar pondok pesantren Tremas.

Saat ini, kedekatan itu terus ia pupuk dengan dekatnya hubungan ia dengan organisasi Islam. Dukungan itu bukan hanya dari segi elektoral, namun dari sisi moril. Oleh karena itu, hubungan tersebut terus berjalan dengan baik hingga saat ini dan AHY diterima dengan baik oleh semua golongan.

Nasionalis-religius tecermin pada sosok AHY. Keduanya ditopang dengan intelektualitas yang tinggi dan visi yang jauh ke depan. Maka dari itu, hadirnya AHY sebagai penantang terkuat dalam Pilpres bukanlah tanpa alasan.

Diprediksi Indonesia pada tahun 2045, ketika Indonesia genap berumur 100 tahun akan menapaki jalan menjadi negara maju. Jika itu benar, tentu untuk mengarungi jalan tersebut dibutuhkanlah sosok pemimpin yang tepat dan mampu menuntun bangsa ini menuju cita-cita yang diidamkan.

Komentar Anda

Komentar Anda