Perubahan Perilaku Jauhkan Depok Jadi Kota Layak Anak

WhatsApp Image 2018-05-02 at 20.09.35

 

Era mileniel merupakan zaman dimana masyarakat harus mampu bersaing dengan derasnya arus informasi. Hal ini justru menimbulkan dampak positif mau pun negatif bagi masyarakat. Positifnya, masyarakat bisa lebih dipermudah dengan sajian informasi yang begitu mudah didapat. Namun, dampak negatifya, masyarakat justru belum siap menampung informasi sehingga membuat perilakunya berubah. Khusunya, perubahan tersebut justru rata-rata melibatkan anak di bawah umur.

Di Kota Depok, Jawa Barat misalnya, gaya hidup anak di bawah umur sangat berbeda dari era sebelumnya. Faktanya, tak banyak pelaku kejahatan di Depok melibatkan anak di bawah umur.

Pada 26 April 2017, Polresta Depok menangkap empat orang anak di bawah umur yang putus sekokah. Mereka ditetapkan sebagai tersangka kasus perampasan dengan kekerasan lantaran melakukan tindak kejahatan dengan menodong dan membacok korban di Jalan Dewi Sartika Depok. Selain itu, polisi juga meringkus 24 pelaku penjarah toko pakaian pada 24 Desember 2017. Pelakunya rata-rata anak remaja yang mengaku terlibat dalam kelompok geng motor.

Laporan khusus yang coba diolah Radar Depok (Pojoksatu.id Group), kasus kekerasan perempuan dan anak yang terdata serta ditangani Pemkot Depok melalui Dinas Perlindungan Anak Permberdayaan Masyarakat dan Keluarga (DPAPMK) Kota Depok sepanjang 2017 trend kasusnya naik, dibandingkan pada 2016 yang hanya 36 kasus.

Kabid Tumbuh Kembang dan Pengembangan Kota Layak Anak DPAPMK Kota Depok, Yulia menyebutkan, pada 2017 terdapat 86 kasus kekerasan anak dan perempuan di Kota Depok. Ia mengklaim, adanya peningkatan kasus, disebabkan masyarakat sudah mulai berani melaporkan kasus kekerasan. Di sisi lain, kasus perubahan perilaku oleh anak sehingga menjadi pelaku kejahatan adalah adanya kasus asusila atau kekerasan pelecehan seksual terhadap anak.

“Kekerasan anak didominan kekerasan seksual anak yang terjadi di Depok. Ada pun faktor yang berpengaruh seperti, pergeseran moral, Kerentanan dalam keluarga atau kurangnya ketahanan keluarga, kurangnya pemahanan orangtua, dan pola asuh anak yang salah,” ujar Yulia yang ditayangkan Pojoksatu.id, (15/1/2018).

Upaya dalam menangani permasalahan ini terus dilakukan. Seperti Promotif, yaitu menyosialisasikan melalui media. Dan Preventif, yakni sosialisasi langsung ke masyarakat dengan pola asuh anak di era digital. Serta menggelar gerakan bahaya seksual pada anak.

“Faktor ekonomi atau ketahanan fisik ekonomi juga menjadi faktor adanya kekerasan kepada anak dan perempuan,” kata Yulia.

Pemerintah Kota Depok, ingin mewujudkan Kota Layak Anak seolah hanya sebuah wacana belaka. Terbukti, kampanye program yang sudah lama diberitakan tersebut hingga saat ini belum terrealisasi. Bahkan, pada Agustus 2017, Depok digemparkan dengan kasusu sekolah tanpa meja dan kursi di Madrasah Tsanawiah Depok. Mirisnya, kelas yang diisi 30 siswa tersebut terpaksa melakukan sistem pembelajaran dengan cara lesehan.

Sejauh, ini Pemkot Depok mengklaim terus mengupayakan agar tingkat kekerasan dan perubahan perilaku terhadap anak berkurang. Tentunya, peran pemerintah serta pengaruh pola asuh orang tua menjadi faktor terpenting dalam menjaga perubahan perilaku anak. Kemudian, perhatian terhadap akses informasi juga harus tetap dalam pengawasan orang tua.

“Untuk menuju perwujudan KLA tambah dia, harus melibatkan empat pilar. Yaitu masyarakat (keluarga), dunia usaha, pemerintah atau OPD semua bergerak, dan media. Sekarang ini Depok, baru tahapan Nidya, karena sudah semua OPD dan masyarakat bergerak menciptakan KLA ditingkat RW, kelurahan, dan kota,” kata Yulia.

 

sumber : http://rajawalionline.id/?p=333

Komentar Anda

Komentar Anda