Politik Rendah Hati: Belajar dari Bunda Maria

Ada yang tersisa dari ingatan bangsa Indonesia ketika Susilo Bambang Yudhoyono berhasil memenangkan pemilihan Presiden 12 tahun silam. Seorang ‘anak kecil’ yang tidak diperhitungkan tiba-tiba terpilih secara demokratis menjadi orang nomor satu di Republik.

Pada waktu itu SBY, begitu presiden ke-6 RI itu biasa disapa, bukanlah tokoh besar di Republik. Ia hanya purnawirawan jenderal yang bukan kebetulan pernah menjabat sebagai menteri dalam kabinet presiden Megawati.

“Dulu Saya bukan siapa-siapa, dianggap anak kecil. Sama sekali tidak diperhitungkan dalam kancah pilpres. Saya bukan konglomerat. Namun, perjuangan yang sungguh-sungguh dan keyakinan yang kuat kepada Tuhan, Saya terpilih sebagai presiden RI”, kata SBY dalam acara deklarasi relawan Agus-Sylvi di Is Plaza (05/10/2016)

Sadar bahwa ia bukan siapa-siapa, maka perjuangan sampai titik darah penghabisan adalah harga mati. Maka, pada tahun 2001 beliau mendirikan partai yang kelak bernama Partai Demokrat sebagai sebuah kendaraan politik untuk berjuang mewujudkan idealisme: Indonesia yang adil dan sejahtera lahir batin.

SBY berulang kali menegaskan soal kerendahan hati. Ia mengingatkan kepada segenap para relawan untuk selalu rendah hati menyikapi dinamika politik yang terjadi.

“Apa yang terjadi pada Saya 12 tahun silam kini dialami Agus. Agus dianggap anak ingusan, anak kecil yang tidak mengerti politik. Saudara-saudara harus menyikapinya dengan bijak dan demokratis, tidak boleh mengandalkan kekerasan”, ujarnya.

SBY hendak mengatakan bahwa hinaan dan celaan lawan politik itulah yang akan mendewasakan seorang politisi. Itu dikatakannya berdasarkan pengalamannya menjadi politisi kawakan yang dimulai dari ‘anak kecil’.

Orang bilang pengalaman adalah guru yang baik. Pengalaman SBY itu dikisahkannya kembali seperti hendak mengatakan kepada kita bahwa tidak Ada sesuatu di dunia ini yang instan. Pengalaman itu semakin mengokohkan keputusannya untuk memilih Agus “si anak ingusan” bergulat dalam dinamika politik praktis yang keras.

Kerendahan hati dan kesabaran tidak lain merupakan kunci sukses bagi mereka yang tekun menjalani dunia politik. Tidak hanya itu, hidup itu sendiri harus dijalani dengan keutamaan-keutamaan yang sudah disebutkan di atas.

Berbicara tentang kerendahan hati, Saya jadi teringat pada kisah Bunda Maria, Bunda Yesus Kristus. Saya tidak sedang mengatakan bahwa pengalaman SBY di atas itu sama persis dengan apa yang dialami Bunda Maria. Jelas beda! Dan, tidak Ada maksud untuk menyamaratakan keduanya begitu saja.

Yang mau Saya utarakan adalah bagaimana keduanya memahami kerendahan hati sebagai sebuah kebajikan di dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Rangkaian kehidupan Bunda Maria dapat dikatakan sebagai kisah kerendahan hati anak manusia. Sejak awal bahkan sudah ditunjukkan bagaimana Bunda Maria menyikapi hal-hal yang bahkan sama sekali tidak dipahaminya.

Dikisahkan Kitab Suci, ia mengandung seorang anak padahal ia tidak bersuami. Secara manusiawi hal ini tidak dapat dibenarkan, tidak bisa dimengerti oleh akal sehat manusia. Dia sendiri bingung, takut, dan rasa-rasanya sulit menerima kenyataan tersebut.

Di saat dia bingung, takut, dan tidak mengerti, ia menyerahkan semuanya itu bersama dirinya kepada Tuhan yang ia sembah.

“Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu”, katanya kepada Gabriel, malaikat pembawa pesan Tuhan.

Puncak kerendahan hati Bunda Maria tampak dalam jalan salib dan drama penyaliban Yesus di Golgota. Seorang ibu rumah tangga, manusia biasa, dipaksa menyaksikan sengsara dan wafat anaknya secara mengerikan.

Hati siapa yang tidak remuk-redam? Manusia normal manakah yang bisa menerima hal itu sebagai sebuah kewajaran? Saya kira tidak ada.

Namun, Bunda Maria menampilkan dirinya sebagai pelayan Sabda Allah yang, meski tak sepenuhnya paham, tetap menerimanya sebagai sebuah misteri dengan rendah hati.

Dikatakan:

“Ia menyimpan segalanya di dalam hatinya”.

Ada kepasrahan dan harapan di hadapan misteri putranya, ada doa seorang ibu di hadapan sengsara anaknya. Ada cinta yang besar di dalam hati Bunda Maria kepada anaknya walau tak sempat terkatakan.

Akhirnya, rendah hati mampu membuat manusia berjalan di dalam gelap. Rendah hati menjadi alas kaki ketika kita berjalan di tengah onak duri. Rendah hati menjadi sikap dasar kita untuk selalu sabar dan tekun ketika harapan akan kebaikan mulai memudar.

YYF-Cerobong Asap

Komentar Anda

Komentar Anda